Cerita Wahid, Dari Sopir Truk Kini Praktisi Kopi Organik
MEDAN, GJI.or.id – Praktisi kopi asal Marancar, Tapanuli Selatan, Abdul Wahid Harahap, berbagi pengalamannya dalam mengembangkan usaha kopi berkonsep konservasi. Dalam sebuah seminar hasil hutan bukan kayu (HHBK), ia menekankan bahwa kopi bukan sekadar komoditas, melainkan juga jalan menuju kesejahteraan masyarakat tanpa merusak lingkungan.
“Kami para petani justru lebih menjaga hutan daripada yang sering dianggap orang. Kami tidak pakai pestisida kimia, tidak merusak hutan. Limbah rumah tangga kami olah jadi pupuk. Konsepnya sederhana: bertani sambil menjaga alam,” ungkap Wahid.
Hal tersebut diungkapkannya saat Seminar Nasional Optimalisasi Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Secara Berkelanjutan yang digelar Green Justice Indonesia dan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara pada Senin (15/9/2025).
Dijelaskannya, sejak 2008, Wahid mengelola Tyyana Kopi, sebuah usaha yang kini dikenal luas hingga mancanegara. Kopi arabika dari Marancar disebutnya sebagai salah satu yang terbaik di dunia karena ditanam secara ramah lingkungan.
Ia bahkan pernah menerima penghargaan dari Kementerian Kehutanan atas komitmennya mengembangkan kopi dengan konsep konservasi. Lebih jauh, Wahid menekankan pentingnya peran generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk melanjutkan perjuangan menjaga hutan sekaligus mengolah hasilnya secara bijak.
“Kami ini sudah hampir pensiun. Tangannya sekarang di adik-adik mahasiswa. Jangan terlena isu-isu, tapi punya komitmen membangun desa, mengolah hutan jadi sumber ekonomi,” pesannya.
Usaha kopinya juga unik karena mengusung konsep sosial. Di kafenya, pengunjung bisa “minum kopi sepuasnya, bayar seikhlasnya”. Menurut Wahid, konsep ini lahir dari keprihatinan bahwa para petani sering tidak bisa menikmati kopi terbaik yang mereka hasilkan sendiri.
Meski usahanya kini berkembang menjadi agrowisata dengan kafe, kolam, hingga pengolahan kopi di lahan sendiri, Wahid menegaskan perjalanan itu tidak mudah. Delapan tahun pertama ia membangun usaha nyaris tanpa modal, hanya bertahan berkat ketekunan dan dukungan keluarga.
“Saya mulai dari nol. Pernah delapan tahun membuka usaha tanpa sekalipun memberi uang belanja ke istri. Tapi justru di situ kami ditempa,” kisahnya.
Wahid berharap pemerintah dan lembaga-lembaga pendamping seperti NGO lebih serius mendukung petani kopi dan pelaku HHBK. Menurutnya, kolaborasi antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah sangat penting agar kopi dan hasil hutan bukan kayu lainnya bisa menjadi sumber ekonomi yang berkelanjutan.
“Kalau diukur dari sisi ekonomi, kopi tidak kalah nilainya dengan profesi lain. Bedanya, kami menjaga hutan, bukan merusaknya. Harapan saya, ke depan semakin banyak mahasiswa dan generasi muda yang mau turun ke lapangan, jadi pelaku, bukan sekadar penonton,” ujarnya.


Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.