Konferensi IKPA ke-5 di Sumatra Utara, Tegaskan Kepemimpinan Perempuan Adat Asia Hadapi Krisis Lingkungan
SAMOSIR, GJI.or.id – Kepemimpinan perempuan adat berperan penting dalam menghadapi krisis lingkungan. Mereka menjadi garda terdepan dalam aksi nyata memperjuangkan hak-hak masyarakat adat.
Hal tersebut mengemuka dalam Konferensi Internasional Masyarakat Adat Asia (The 5th International Conference on Indigenous Peoples of Asia/IKPA) digelar selama lima hari di Samosir, Sumatera Utara sejak Selasa (23/9/2025).
Ketua Persekutuan Perempuan Adat Nusantara AMAN (PEREMPUAN AMAN), Devi Anggraini mengatakan, kegiatan ini bertema “Merayakan dan Memajukan Kekuatan serta Kepemimpinan Perempuan Adat”.
Kegiatan ini kerjasama antara PEREMPUAN AMAN dengan Indigenous Women Programme Asia Indigenous Peoples Pact (AIPP). PEREMPUAN AMAN merupakan organisasi berbasis anggota individu perempuan adat yang dideklarasikan pada 16 April 2012 di Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara.
Organisasi ini menjadi wadah bagi perempuan adat untuk mengkonsolidasikan diri sekaligus menyuarakan kepentingannya di ruang publik dengan anggota sebanyak 4.917 individu perempuan adat.
Perempuan adat itu terkonsolidasi dalam 118 Wilayah Pengorganisasian (WP), tersebar di tujuh region: Sumatera, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua.

Perwakilan Asia Tenggara di Dewan Eksekutif AIPP, Abdon Nababan mengatakan, konferensi ini untuk memperkuat kekuatan dan kepemimpinan perempuan adat. Melibatkan 15 negara yang tergabung dalam AIPP.
Dikatakannya , kegiatan ini rutin dilakukan setiap tahun namun kali ini fokus pada peran perempuan adat dalam melindungi lingkungan dan budaya.
Pertemuan ini akan menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk perlindungan internasional, terutama terkait perubahan iklim, keanekaragaman hayati, dan pembangunan berkelanjutan.
“Pertama adalah bagaimana untuk memperkuat pengetahuan perempuan hadap dalam pengelolaan alam. Yang ada kaitannya nanti sebagai solusi bagi penyelamatan lingkungan, dan juga penyelamatan kebudayaan di seluruh Asia,” ujarnya.
Perempuan Adat di Garis Depan Perjuangan
Abdon menegaskan, konferensi ini menegaskan bahwa perempuan itu sudah terbukti dan teruji menjadi penopang bagi masyarakatnya.
Dan karena itu mereka memang selalu di garis depan dalam perjuangan kepentingan hak-hak masyarakat adat. “Jadi mereka sama sekali tidak boleh didiskriminasi di dalam proses-proses yang berkaitan dengan kebijakan publik,” jelasnya.
Dikatakannya, pertemuan kali ini lebih fokus pada penerjemahan deklarasi yang dilakukan pada pertemuan sebelumnya menjadi aksi nyata. Pertemuan kali ini cukup panjang, karena mau menerjemahkan itu menjadi tindakan-tindakan.
Baik di komunitas masing-masing, di negara masing-masing yang 15 negara ini, dan juga untuk diperjuangkan di perundingan-perundingan internasional berkaitan dengan tiga isu; perubahan iklim, keanekaragaman hayati, dan sustainable development.
“Jadi tidak sekedar teks, tapi menerjemahkannya menjadi tindakan,” ungkapnya.

Risiko Diabaikan Pemerintah
Abdon menambahkan, ada kemungkinan rekomendasi diabaikan pemerintah namun isu sudah menjadi resiko. Meski begitu, Abdon menegaskan perjuangan tidak boleh berhenti.
“Tapi menurut saya paling tidak dari sisi gerakan di Asia, kita sudah punya satu posisi terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat adat, khususnya perempuan adat. Kita tidak akan pernah menunggu pemerintah. Kalau pemerintah belum bisa melakukannya ya kita kerjakan aja dulu,” bebernya.
Wakil Bupati Samosir: Dorong Kemandirian dan Kesetaraan Gender
Wakil Bupati Samosir, Ariston Tua Sidauruk menilai konferensi ini penting untuk membangkitkan motivasi perempuan adat, termasuk di Tanah Batak.
“Artinya, kalau kita lihat, terutama di sini masih ada sebagian besar bahwa laki-laki lebih dominan. Itu nanti akan ada lebih edukasi-edukasi. Ya termasuk inilah salah satu karena menjangkau perempuan adat,” katanya.
Menurutnya, kesetaraan gender harus terus diperjuangkan agar diskriminasi agar tidak ada di masa depan. “Memang di Kabupaten Samosir sendiri ini, ya kalau kita lihat sih, sudah semakin baik, tidak ada itu diskriminasi lagi,” katanya.


Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.